Arabika Coffee Gayo

Arabika Coffee Gayo
Barista Gayo
Tampilkan postingan dengan label kupi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kupi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Kopi Gayo Oke


Simone Bertuzzi mengakui kopi gayo memiliki rasa dan aroma memikat....

Senin, 25 Juli 2011

Minum Kupi Cara Turki

Salah satu di antara berbagai penyeduhan kopi yang kita kenal sejauh ini, satu di antaranya adalah metode purba, yakni turkish coffee. Jika kita tengok secara historis, sebenarnya kata "turkish coffee" merupakan penyebutan outsider, bukan insider, dan tentu saja secara sosiologis nomenklatur turkish coffee muncul ketika teknis dan alat penyeduhan kopi semakin kompleks perkembangannya. Di Turki sendiri, serta di negeri Jazirah Arab lainnya, pada awalnya kopi yang sekarang disebut sebagai turkish coffee itu dikenal atau disebut dengan kopi saja, dalam hal ini tentu menggunakan bahasa lokal masyarakat tempatan, seperti kahve dan al-qahwah. Dengan kata lain, Turkish Coffee bisa dikatakan sebagai nama generik untuk kopi standard masyarakat Jazirah Arab.
Itu sebenarnya sama dengan masyarakat kita secara umum pada beberapa dekade sebelumnya: ketika kita menyebut kopi, itu merujuk pada kopi tubruk, paling tidak di daerah Pulau Jawa, mengingat di Pulau Sumatra selain kopi tubruk mengenal Kopi Tarik. Perujukan kopi kepada kopi tubruk di awal merupakan hal lumrah lantaran banyak orang hanya mengenal kopi tubruk. Tapi, begitu teknis dan alat penyeduhan kopi mulai dikenal, maka mau tak mau kata kopi tidak serta merta merujuk pada kopi tubruk. Sekarang, paling tidak di masyarakat urban, kata kopi memiliki makna yang tidak tunggal. Kata kopi itu bisa berarti tubruk, espresso, french press, syphon, dll. Nah, untuk kemudahan tentu saja biasanya ada kata sifat yang disandangkan pada kopi. Misalnya, jika kita menyebutkan kata kopi tubruk, tentu kopi yang dimaksud adalah kopi yang dibuat dengan cara tubruk, bukan pour over.
Nah, jika Anda tertarik menyeduh kopi yang bisa dibilang eksotik sekaligus hendak mengenal bagaimana pada masa awal kopi itu dinikmati, penyeduhan kopi menggunakan Ibrik sangat direkomendasikan. Untuk mendapatkan sensasi sebagaimana kopi ini dinikmati di Jazirah Arab, kita bisa menambahkan kapulaga, adas, dan gula pasir. Tapi, kita boleh juga tidak menambahkan apa pun selain bubuk kopi sebagaimana yang kami lakukan untuk keperluan tulisan ini. Sebenarnya sih tidak punya kapulaga, adas, dan gula pasir saja :D
Yang menarik, meski kami tidak menggunakan gula, kopi Sumatran Gourmet Macehat Coffee dengan skala sangrai medium yang kami seduh hasilnya manis sekali, salah satu kopi termanis tanpa gula yang pernah kami coba. Selain itu, hasilnya aroma semerbak dan kaya rasa. Silakan dicoba sendiri di rumah masing-masing mengingat pengalaman untuk mendapatkan pengayaan ruhaniah dalam mencapai ekstase kopi.

Cara minum kopi ala Turki ini mirip dengan cara minum kopi di Gayo. Di gayo, biasanya petani atau penggembala kerbau, biasanya terlebih dahulu memanaskan air dengan perapian dari kayu.
Caranya, air dicampur bubuk kopi lalu dipanaskan hingga mendidih dengan suhu sekitar 100 derajat celcius. Setelah kopi dan air mendidih, baru dituangkan dalam gelas dan diberi gula. Atau dengan gula kertov dari gula aren.

Minum dengan gula kertov, jamaknya dilakukan dengan cara mengunyah gula aren terlebih dahulu kemudian menyeruput kopi (Win Ruhdi Bathin--Sumber :philocoffeeproject | Juli 25, 2011 pada 10:32 pm | URL: http://wp.me/p1ov5Y-8B )

Rabu, 20 Juli 2011

Sendok Kopi

Sendok Kopi, Apa Kabarmu?
philocoffeeproject | Juli 20, 2011 pada 4:15 am | Tag: AeroPress, Casual Product, Clever Coffee Dripper Paperless, Hario, Kalita, Sendok Kopi, Smart Coffee Maker | Categories: Alat Kopi, Sendok Kopi | URL: http://wp.me/p1ov5Y-7j

Sendok kopi, meski sederhana dan nyaris tidak dibuat tulisan khusus mengenainya secara mandiri, paling tidak, sekadar curhatan akan dirinya, merupakan salah satu hal yang tidak bisa disepelekan sejak kopi adalah sesuatu yang tertakar. Secara umum, para peminat kopi menganjurkan dalam menakar biji kopi (atau bubuk kopi) dengan menggunakan timbangan digital lantaran tingkat akurasinya lebih unggul dibanding dengan alat takar lain seperti sendok kopi atau timbangan nondigital. Di dapur kami, kami selalu menggunakan timbangan digital. Tapi, sejak kami mendapatkan masukkan dari seorang teman yang juga seorang konsultan food and beverage yang bertandang ke Kopi Kelana untuk menggunakan sendok ukur yang bertakaran 10 gr (misalnya) demi kepraktisan, dan pada saat bersamaan, sama-sama memenuhi tujuan penakaran kepresisian komposisi minuman kopi terseduh, kami jadi berpikir ulang akan kebergantungan pada timbangan digital. Paling tidak, ketika sedang mendapatkan pesanan minuman kopi terseduh lebih dari 3 gelas dalam waktu sekali pemesanan. Kami menimbang bahwa dari sisi waktu, penggunaan sendok ukur bisa menghemat waktu yang dibutuhkan: waktu penunggu pelanggan menjadi lebih pendek. Selain itu, tidak terkesan ribet atau repot :-)
Betapapun, jika timbangan digital tujuannya untuk menakar, sendok kopi juga bisa seperti itu, sehingga perbedaannya memang tidak menjadi signifikan. Soal tingkat akurasi, kedua-duanya pun bisa dijagokan lantaran takaran yang digunakan oleh baik timbangan digital maupun sendok kopi tetap mengalami penyusutan jumlah. Penyusutan itu terjadi karena pada proses penggerusan kopi akan ada serpihan bubuk kopi tersisa atau melekat di burr grinder. Itu berarti, kedua-duanya menghadapi permasalahan yang sama. Dengan begitu, sendok kopi dan timbangan digital menjadi sejajar :-)
Barangkali karena faktor penyusutan tersebut para manufaktur alat kopi tetap menyisipkan bonus sendok kopi. Dan, tidak sedikit manufaktur alat kopi yang menjual sendok kopi terpisah. Sejak kami menggunakan alat kopi yang terselip bonus sendok kopi, seperti Hario, AeroPress, Smart Coffee Maker (Clever Coffee Dripper versi paperless), tanpa disadari kami mendadak mengoleksi sendok kopi :-) Terus terang, awalnya memang agak menggelikan ketika kami menggunakan sendok kopi bertakaran, tapi cuma untuk menyendok biji kopi dalam keperluan penimbangan berbasis digital. Sepintas lalu terkesan oxymoron. Dan, kami menyadari oxymoron semacam itu. Tapi, siapa peduli :-)
Beruntunglah kami bersua dengan teman kami yang sudah kami sebutkan di awal tulisan ini. Rasa khawatir kami akan ketidaktepatan komposisi bubuk kopi dalam minuman kopi terseduh menjadi pupus. Sekarang, kami sering menggunakan sendok kopi bertakaran, dan sejauh ini hasilnya kopi sama sekali tidak berbeda dengan penggunaan timbangan digital. Kadang kami tetap menggunakan timbangan digital dan tentu sekarang sendoknya menggunakan sendok nontakaran.
Jika kami pikir-pikir lagi, kenapa menggunakan sendok kopi bertakar, tidak timbangan digital, kadang itu soal malas atau tidak malas saja, atau repot atau tidak repot. Pada saat ingin cepat, ya langsung hajar sendok kopi bertakar, jika tidak terburu-buru, ya timbangan digital. Atau, kadang sedang pengin direpotkan dengan timbangan digital, ya sendok kopinya diabaikan. Nah, jika sudah begitu, pada akhirnya putusan kami untuk memilih sendok kopi atau timbangan digital menjadi mana suka atau arbitrer. Pokoke, sekarepe dewe' :-) Beruntungnya, meski sekarepe dewe', hasil kopinya tidak sekarepe dewe'. Puji Kopi.
Nah, menurut Anda, enak mana, menggunakan sendok kopi bertakar atau timbangan digital? Atau, seperti kami: sembarang saja; jika lagi pengin sendok kopi, ya pakai itu; jika sedang pengin timbangan digital, ya pakai itu =))

Sendok Kopi

Senin, 18 Juli 2011

Tip Menghindari Rasa Burnt dan Getir Pada Kopi

Moka Pot: Tips Menghindari Rasa Burnt dan Getir
philocoffeeproject | Juli 18, 2011 pada 2:20 pm |

Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh pengguna Moka Pot, kami salah satu di antaranya, adalah bagaimana menghasilkan karakter kopi yang tidak burnt dan pahitnya keterlaluan. Jika kita memiliki Bialetti Moka Express, pada buku panduan penggunaannya, kita tidak akan menemukan tips bagaimana menghindari rasa terbakar dan getir berlebih selama penyeduhan dengan Moka Pot.
Nah, untuk menghindari rasa terbakar dan getir berlebih tersebut, akan sangat berguna jika kita mengetahui proses kerja Moka Pot.
Pertama-tama, Moka Pot masuk ke dalam metode ekstraksi kopi berbasis tekanan. Karena sama-sama berbasis tekanan, kadang Moka Pot juga diebut sebagai espresso kompor, terlepas setuju atau tidak akan penyematan tersebut. Tekanan Moka Pot cukup sederhana: air mendidih di dalam alumunium autoclave, lalu air mendidih itu akan menekan menembus pipa corong tempat bubuk kopi terkumpul, lalu tembus ke saringan di atasnya, dan keluar di bejana bagian atas. Nah, cara kerja seperti itu sebenarnya yang membuat Moka Pot mirip dengan espresso. Tapi bukan pada tekanan, melainkan bagaimana air mengekstraksi kopi cuma sekali aliran saja (flowing), tidak merendam (immersion).
Kedua, soal waktu. Waktu persinggungan pengekstraksian kopi dalam Moka Pot terletak pada resistansi hidrolik di sekumpulan bubuk kopi (ampas, cake). Hal tersebut bergantung pada tiga faktor berikut: 1) jumlah bubuk kopi yang digunakan; 2) tingkat kerataan kasar-halus bubuk kopi; dan 3) penekanan bubuk kopi (tamping), apakah dibiarkan saja atau ditekan dengan cara menyekrup bejana bagian atas ke bejana bawah.
Ketiga, termodinamika, dalam hal ini hubungan antara tekanan air dengan temperatur. Nah, tekanan air dan temperatur ini sangat berpengaruh berapa besar tekanan yang dihasilkan. Dengan asumsi titik didih 100 derajat, maka tekanan yang dihasilkan Moka Pot sekitar 0.5 atm.
Bialetti Moka Express 1 cup
Karena Moka Pot mengekstraksi material dapat larut pada kopi dengan bersandar pada tekanan air, tingkat kasar-halus bubuk kopi dan proses tamping atau penekanan-pemerataan bubuk kopi menjadi penting untuk diperhatikan dengan saksama. Semakin halus bubuk kopi dan semakin terpadatkan dengan cara di-tamping, maka dibutuhkan tekanan yang besar untuk dapat menghasilkan ekstraksi yang baik. Dan, untuk dapat mencapai tekanan 9 atm seperti mesin espresso kurang lebih temperatur air harus mencapai 170 sampai 180 derajat. Tingkat temperatur tersebut tidak dimungkinkan dicapai pada Moka Pot, selain untuk mencegah hasil kopi yang pahitnya tidak menyenangkan, juga soal keselamatan. Itulah mengapa di Moka Pot terdapat katup atau valve yang bisa mengontrol tekanan yang membahayakan. Pernah melihat Moka Pot meleduk, kan?
Nah, karena temperatur yang dicapai Moka Pot itu maksimal 110 derajat, maka sangat dianjurkan untuk menggunakan bubuk kopi dalam skala kasar, tidak halus, dan tidak di-tamping. Lantaran, untuk dapat mencapai tekanan yang dibutuhkan untuk mengekstraksi bubuk kopi yang halus ditambah ter-tamping pula, temperatur yang dibutuhkan itu di atas 110 derajat. Temperatur di bawah 110 derajat itulah yang menyebabkan substansi-substansi yang tak-larut menjadi ikut terekstraksikan sehingga itu meninggalkan rasa pahit yang berlebih, atau kadang sering disebut sebagai burnt. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Moka Pot itu untuk bisa menghasilkan ekstraksi yang baik adalah dengan cara mengalir (flowing), bukan merendam (immersion). Ketika bubuk kopi terlalu halus dan terlalu padat, tekanan air jadi tidak langsung mengalir menembus bubuk kopi, melainkan ikut merendam bubuk kopi.
Dengan demikian, tingkat ukuran bubuk kopi yang ideal untuk menyeduh kopi dengan Moka Pot, dalam hal ini menghindari rasa burnt, adalah skala kasar. Lalu, apa batasan kasar itu sendiri sejak setiap orang boleh jadi bisa berbeda satu sama lain dalam mengindentifikasi tingkat bubuk kopi yang kasar itu seperti apa. Sebagai pembanding, kita bisa mencobanya dalam skala bubuk kopi untuk pour over atau french press. Betapapun, kopi itu seperti thariqat, yaitu sebuah jalan. Anda harus menemukan sendiri jalan tersebut sejak kopi itu bergantung pada selera Anda :-)
Nah, sekarang Anda bisa mencobanya di rumah. Dan, jika tidak berkeberatan, silakan berikan komentar Anda di blog ini atas tips ini di sini: biar kita saling berbagi mengenai pengalaman kita dalam menyeduh kopi :-) Lebih bagus lagi jika Anda menulis sendiri untuk blog Anda (jika Anda memiliki blog tentu saja).
Tabik.

Nilai Grinder pada Minuman Kopi, Pentingkah?

Nilai Penting Grinder dalam Kopi

philocoffeeproject | Juli 18, 2011 pada 1:49 am | Tag: coffee grinder, coffee mill, conical burr, Grinder, penggiling kopi | Categories: Alat Kopi, Grinder | URL: http://wp.me/p1ov5Y-70

Nilai penting alat giling kopi (coffee mill, coffee grinder) dalam menghasilkan kopi optimum sudah didengung-dengungkan di mana-mana. Jika kita membaca pelbagai buku mengenai proses penyeduhan kopi, foroum-forum daring (online) kopi, juga weblog, baik luar maupun lokal, seperti Cikopi, posisi penggiling kopi menjadi hal terutama. Pendek kata, beli penggiling kopi dulu, baru alat kopi.
Setiap alat seduh kopi memiliki kebergantungan tersendiri akan tingkat kasar-halus bubuk kopi. Bubuk kopi kasar akan menghasilkan karakter rasa optimum jika diseduh dengan alat yang tepat; bubuk kopi halus juga memiliki alat tersendiri agar bisa menyajikan kopi dengan karakter yang sempurna; begitu juga dengan bubuk kopi yang tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus akan memberikan kenikmatan jika kita seduh dengan alat tertentu. Nah, untuk mengatur tingkat kehalusan dan kekasaran bubuk kopi seperti yang kita inginkan hanya bisa dicapai melalui penggiling kopi atau coffee grinder. Tanpa penggiling kopi yang memadai, teknik penyeduhan atau alat kopi yang hendak kita gunakan akan menjadi sulit. Misalnya, espresso, ia merupakan teknik menyajikan kopi yang terewel di antara berbagai metode seduh. Saking rewelnya, penggiling kopinya pun khusus. Meski alat atau teknik lain tidak serewel espresso, tetap saja menuntut grinder yang bagus dan baik.
Meski penggiling kopi menempati posisi krusial, pada kenyataannya di Indonesia penggiling kopi tidak menjadi wabah sehingga dengan mudah kita temukan di dalam rumah para penikmat kopi. Itu dari kalangan rumah tangga. Bagaimana dengan kalangan komersial atau professional, seperti kedai kopi (kafe itu kedai kopi)? Pada kenyataannya juga masih sedikit yang menganggap penggiling kopi ini lebih penting dibanding dengan alat seduh kopi. Masih banyak kedai kopi yang dipusingkan dengan alat seduh kopi, tapi sedikit dari mereka yang memusingkan grinder. Banyak kafe berkenan membeli mesin espresso mahal, tapi sungkan membeli grinder mahal. Tidak sedikit kedai kopi yang menggunakan kopi yang sudah terbubukkan. Jika kita mengeluhkan rendahnya apresiasi penikmat kopi di Indonesia sehingga banyak kopi terbaik dari Indonesia yang diekspor lantaran sepi permintaan pada pasar lokal, grinder bisa menjadi pintu untuk mengajak orang mengenal kopi lebih dekat. Manusia sangat gemar dengan wewangian yang enak. Nah, ketika biji kopi segar digiling bisa dipastikan wangi semerbaknya akan menyedot perhatian seseorang.
Dari sisi roaster, dalam hal ini roaster yang menjual biji kopi di supermarket atau secara massal, di Indonesia juga banyak yang menjual kopinya dalam keadaan sudah terbubukkan. Itu menandakan bahwa konsumen kopi di Indonesia masih banyak yang belum memiliki penggiling kopi. Barangkali salah satu alasannya adalah soal harga. Namun, soal harga ini pun menjadi relatif ketika kopi spesial bisa dibilang harganya mahal jika dibandingkan dengan kopi standard yang dijual di warung-warung kecil dan swalayan. Untuk sekadar menikmati kopi tubruk, french press, dan pour over, sebenarnya penggiling kopi dengan penggerus bilah atau blade sudah cukup. Mengapa blade? Lantaran harga penggiling kopi blade lebih murah dibanding dengan conical burr baik yang elektrik maupun manual. Jika sudah bermain alat kopi yang banyak, terutama espresso, memang mau tidak mau diperlukan grinder yang tidak murah harganya. Dan harga penggiling kopi blade bahkan conical burr yang manual harganya bisa sedikit lebih rendah dari harga pasaran sekarang jika para pelaku industri kopi yang besar mau mengimpor penggiling kopi dalam jumlah besar, jika enggan memproduksi sendiri.
Padahal, dengan penggiling kopi itulah seseorang yang awalnya tidak begitu mengapresiasi kopi dengan tinggi, bisa jadi jatuh cinta dengan kopi. Ketika menggiling kopi, seseorang akan langsung berjumpa dengan wewangian kopi sehingga yang awalnya membeli kopi kemasan tanpa pernah mencium wangi kopi yang semerbak, itu bisa membuatnya berpikir kembali akan cita rasa kopi. Kami memiliki banyak teman yang tidak minum kopi. Tapi, ketika kami menggiling kopi, mereka selalu mendekat dan menghirup dalam-dalam. Para teman kami tersebut, ketika pertama kali mencium wangi kopi yang sebelumnya tidak mereka temui pada kopi kemasan yang terbubukkan, reaksi pertamanya adalah: "O, wangi kopi itu enak juga yah. Baru tahu".
Selain itu, bagi penikmat kopi, meski dia tidak memiliki alat seduh kopi, sehingga cara yang bisa dilakukan hanyalah tubruk, dengan memiliki grinder dia tetap dapat menikmati cita rasa kopi dengan baik daripada orang yang memiliki mesin espresso yang menggunakan grinder tak tepat guna. Dia bisa mencium bau tubuh sang kopi; begitu juga ketika dia menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah terisi bubuk kopi yang baru saja digiling, dia akan menjumpai aroma atau wewangian yang sedikit berbeda dibanding ketika belum diseduh. Hal semacam itu tentu merupakan pengalaman kopi yang sangat diharapkan bisa mendongkrak apresiasi seseorang akan kopi. Kopi tubruk akan menjadi hal yang menggetarkan dan memesonakan jika kopi yang digunakan masih dalam keadaan biji.
Penggiling kopi tidak sekadar penting dalam konteks kebergantungan tingkat halus-kasar bubuk kopi terhadap alat penyeduh yang digunakan, melainkan ia juga dapat membawa kita satu jenjang lebih tinggi ke surgawi kopi :-)
philocoffeeproject
Merayakan Khazanah Tradisi Kopi
Nilai Penting Grinder dalam Kopi
Posted on Juli 18, 2011 by philocoffeeproject