Arabika Coffee Gayo

Arabika Coffee Gayo
Barista Gayo

Senin, 20 Februari 2012

Nasib Kelam Petani Kopi Gayo

“104 tahun lalu, Belanda menjadikan kopi Gayo sebagai Product for Future. Kini, menjadi penyumbang terbesar Pendapatan Asli Daerah setempat. Tapi petani kopi kian terjepit” PERCAYA atau tidak, saat ini kopi gayo telah menjadi ikon kopi berkualitas cita rasa terbaik. Semua pecandu kopi di Aceh tentunya tak akan menyangkal pernyataan itu. Tapi asal tahu saja, kemasyhuran kopi Gayo juga sudah menyebar ke dunia internasional, ditandai dengan masuknya Star Buck, produsen kopi yang telah dikenal seantero dunia. Perlu diingat, ini kopi Gayo, bukan kopi Pemerintah Daerah Gayo, karena hingga saat ini tak ada satupun kebun kopi milik pemerintah yang dikelola secara profesional dan menjadi contoh bagi rakyat. Tidak ada sama sekali. Meski tak ada perhatian dari pemerintah, bukan berarti kualitas kopi yang dihasilkan oleh para petani menurun. Awal Oktober lalu, untuk menjawab penasaran tentang kopi Gayo, atas permintaan Star Buck, telah dilakukan suatu penelitian tentang kopi Gayo, di beberapa kecamatan di Aceh Tengah. Dilakukan oleh LSM Bitra dan IFC, selama dua pekan, penelitian berusaha menjawab tentang pola bertani, hasil, jenis kopi, kontinuitas, dan sejumlah penelitian lain dalam bentuk Baseline Survei Petani Kopi 2009. Kita kecolongan Selain Star Buck, ada juga berbagai perusahaan asing yang masuk dan menggandeng koperasi lokal atau mitra lokal lainnya untuk mengeksport kopi Gayo. Kebanyakan kopi yang diekspor diberi label “Kopi Organik” Kenapa kopi gayo banyak diminati asing? Ada yang menyebutkan, rasa kopi Gayo melebihi cita rasa kopi Blue Montain asal Brazil. Mungkin, alasan inilah yang membuat sebuah perusahaan Belanda nekat mempatenkan nama Kopi Gayo di negaranya sebagai merek miliknya. Dengan dipatenkan kopi Gayo oleh perusahaan Belanda ini, kopi gayo tidak bisa lagi diekspor keluar negeri memakai merek “Kopi Gayo”. Sementara jika tidak memakai merek “Kopi Gayo”, harga jual akan lebih rendah. Dan secara geografis kopi gayo memang terletak di sepanjang wilayah Dataran Tinggi Gayo yang meliputi tiga kabupaten, Takengon, BenerMeriah dan Gayo Lues. Petani kopi kecolongan. Bagaimana bisa, kopi yang mereka usahakan selama bertahun-tahun di tengah berbagai Asosiasi Kopi Aceh dan retribusi yang selalu dipungut pemda, kini hak paten itu telah dimiliki oleh orang lain di seberang benua. Lantas apa saja kerja para pengusaha kopi, pemda, Asosiasi pengusaha daerah (Aped), atau kelompok– kelompok yang mengambil keuntungan dari menjadi asosiasi kopi tapi, sesungguhnya tidak berbuat apa–apa. Atau mereka dari seabrek nama lain yang seolah-olah berpihak pada petani kopi. Rakyat kecolongan, pengusaha, Pemda Aceh dan Indonesia patut berduka atas “musibah” ini. Saky Septiono dari Direktorat Merek Dirjen HAKI Dephum dan HAM, beberapa waktu lalu pernah menyebutkan, sebenarnya masih ada peluang untuk mendapatkannya kembali paten kopi rakyat gayo tersebut. Kopi Gayo tidak bisa didaftarkan sebagai merek dagang perusahaan tertentu seperti yang dilakukan pengusaha Belanda, karena merupakan Indikasi Geografis (IG) di Indonesia. Karena itu pemerintah Indonesia berusaha membatalkan pendaftaran merek secara internasional itu dengan mengacu pada Trade Relative Aspects of Intellectual Property. Sebenarnya bukan cuma perusahaan Belanda yang ingin memiliki merek kopi Gayo. Sejumlah warga Gayo pun banyak yang mencoba mendaftarkan merek kopi Gayo ke Dephumkan RI secara perorangan, namun tidak dipenuhi. Karena sertifikat IG hanya boleh dimiliki oleh masyarakat Gayo, bukan perseorangan, lembaga, perusahaan, atau institusi lain. Kopi bagi masyarakat Dataran Tinggi Gayo sudah seperti “nyawa dan tubuh”, tidak terpisahkan. Jika kita bertanya kepada para pejabat di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang kini jadi penguasa dan dipercaya “mengelola” uang rakyat lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK), yang jumlahnya ratusan milyar, mereka semua pasti tahu kopi. Bahkan, para pejabat itu mungkin kuliah dengan uang yang bersumber dari hasil panen kopi orang tua mereka. Seperti kebanyakan penduduk Aceh Tengah. Maman ilang maman ijo, beta pudaha, beta besilo. Pepatah gayo tersebut tampaknya cocok dengan fakta kekinian tentang kopi. Di jaman penjajahan Belanda, perkebunan kopi jauh terkelola dengan baik dan professional dibandingkan saat ini. Betapa tidak, Belanda menjadikan kopi yang diproduksi pertama kali tahun 1905 kemudian ditanam di bagian utara Danau Laut Tawar pada tahun 1908, sebagai “Product for future” Di tahun 1924 Belanda dan investor Eropa telah memulai menjadikan lahan didominasi tanaman kopi, teh dan sayuran (John R Bowen, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989, halaman76). Kemudian, pada Tahun 1933, di Takengon, 13.000 hektar lahan sudah ditanami kopi yang disebut Belanda sebagai komoditas “Product for future”. Masyarakat gayo, tulis John R Bowen, sangat cepat menerima (mengadopsi) tanaman baru dan menanaminya di lahan-lahan terbatas warga. Perkampungan baru di era tersebut, terutama di sepanjang jalan dibersihkan untuk ditanami kopi kualitas ekspor. Tahun 1920 Belanda mulai membawa tenaga kerja kontrak dari Jawa ke Gayo, untuk menjadi pekerja di perusahaan dammar (pinus mercusi). Jika 104 tahun lalu Belanda sudah mengelola kopi dengan baik hingga bisa diekspor Eropa dan dijadikan komoditas unggulan dengan sebutan “Produk Masa Depan”, kini kopi Gayo memasuki masa paling suram dari sejarahnya. Bayangkan saja, kopi di dataran tinggi Gayo kini hanya dikelola oleh masyarakat sendiri. Disebut dengan perkebunan kopi rakyat, yang belum dikelola secara baik dan benar seperti dilakukan Pemerintah Belanda di jaman penjajahan.
Zainuddin, penduduk Wih Pesam Kecamatan Silih Nara Takengon. Sebagai petani kopo ia mengaku tak pernah sekalipun mendapat penyuluhan tentang bagaimana bertanam kopi yang baik, kecuali hanya mendengar, melihat, dan langsung mempraktekkan sendiri di kopi. Sebagai ketua kelompok tani dari perusahaan asing Indocafco, Zainuddin merasa perhatian pemerintah maupun eksportir kopi terhadap petani tidak ada. Hetani hanya menjadi “sapi perahan” pemerintah dan eksportir, tapi keuntungan bagi petani tidak ada. “Setingkat pelatihan saja untuk bertani kopi yang baik saja tidak pernah diajarkan. Konon lagi ada penyuluh perkebunan”, kata zainuddin. Karena pendapatan yang didapat sebagai petani kopi tidak seberapa, ia harus mencari kerjaan tambahan lainnya, misalnya sebagai kuli tani. Kini, Zainuddin juga menjadi pembeli kopi kecil-kecilan. “Sebelum membeli kopi, anak saya yang kuliah terpaksa berhenti karena tidak ada biaya”, kata Zainuddin. Kebanyakan petani kopi Aceh Tengah sangat minim pengetahuan tentang bercocok tanam kopi, perawatan, panen, paska panen. Konon lagi untuk memanagemen penjual dan penghasilan dari menjual kopi. Pemda khususnya, Dinas Perkebunan tak ada perannya untuk memajukan petani kopi. Hanya mengambil retribusi dari pengusaha yang membawa setiap kilo kopi keluar daerah, dan inilah yang saat ini menjadi andalan PAD terbesar. Penderitaan itu diperparah toke, baik toke besar dan kecil, karena seringkali kopi warga diambil atau dibeli toke dengan diutangkan dulu. Setelah toke pulang dari Medan menjual kopinya, barulah uang kopi petani dibayarkan. Pembayaran kopi bisa jadi sebulan kemudian. Pengusaha asing yang menjual kalimat sakti “Kopi Organik’ di pasar dunia tentu akan mendapat pasar tersendiri dan mendapat fee organic dari berbagai asosiasi dunia. Tapi bagi petani yang tergabung dalam anggota petani organik dari eksportir kopi asing tersebut, ternyata tidak mendapat apa-apa, kecuali nama kelompok tani mereka dijual keluar negeri, bahwa sang eksportir punya anggota binaan. “Kami tidak menerima fee organic yang katanya dibayarkan setiap enam bulan sekali. Dulu ada diberikan eksportir kopi alat-alat pertanian, seperti alas jemur dan lain-lain. Tapi kini tidak pernah lagi. Tidak ada untungnya menjadi anggota kelompok tani organik, kecuali kekecewaan dan janji kosong saja,” kata Zainuddin, salah seorang ketua kelompok tani organik.

Kamis, 26 Januari 2012

Arabika Gayo

Roasting Arabika Gayo

Aman Shafa Ajar Dua Gadis Bule Menumbuk Kopi

Aman Shafa Ajar Dua Gadis Bule Menumbuk Kopi Aman Shafa sedang menjalaskan kepada dua gadis bule asal Polandia tentang kopi dan cara menampinya (Foto: Aman Shafa) Sensasi kopi arabika gayo memang luar biasa. Sampai-sampai dua gadis bule asal Polandia, Joanna Niedzialek dan Bogumila Jablecka terobsesi untuk belajar menumbuk kopi. Selama ini mereka sudah terlanjur “jatuh cinta” kepada aroma kopi arabika gayo. Mereka hanya mengenal nama besar kopi arabika gayo, tetapi belum kenal proses pengolahannya. 13275588421318375648 Joanna, gadis bule asal Polandia sedang menumbuk gabah kopi (Foto: Aman Shafa) Kisahnya begini, setelah saya mengantar dua wisatawan asal Polandia itu ke pondokan Aman Shafa di Desa Paya Serngi Aceh Tengah, Jumat sore (21/1) lalu, ternyata mereka tidak langsung tidur meski sudah kelihatan sangat lelah. Menurut Aman Shafa yang saya temui tadi, Kamis (26/1) di cafe cornernya, kedua gadis Polandia yang sedang mengambil program studi Bahasa Indonesia di Unkris Petra itu, ternyata minta diajarkan cara mengolah kopi. Malam itu, Aman Shafa bersama isterinya terpaksa menyediakan alu dan lesung kayu ukuran kecil, alat tampi (tampah), serta sekitar setengah kilogram gabah kopi luwak. Setelah Aman Shafa mengajarkan cara menumbuk gabah kopi, kedua gadis itu mulai mencoba pekerjaan petani kopi di Dataran Tinggi Gayo. Dengan alu pendek dan lesung kecil yang terbuat dari kayu, Joanna terus menumbuk kopi. Selesai ditumbuk oleh Joanna, Bogumila menampi kopi itu untuk memisahkan ampas kulit tanduk dari green bean. Menurut Aman Shafa, pekerjaan menumbuk kopi menggunakan lesung kayu biasanya membutuhkan waktu hanya 30 menit. Namun kedua gadis asal Polandia itu menghabiskan waktu sampai satu jam. Ketidakbiasaan menumbuk kopi menyebabkan alunya lebih sering tertumbuk ke bibir lesung sehingga kopinya bertumpahan ke lantai. “Pemandangan yang sangat lucu melihat dua gadis bule sedang memungut biji kopi dari lantai rumah,” kata Aman Shafa tertawa. 13275590371335700524 Bogumila, gadis asal Polandia sedang menampi kopi yang sudah ditumbuk (Foto: Aman Shafa) Demikian juga yang dilakukan Bogumila, saat menampi gabah kopi yang sudah ditumbuk Joanna terlihat sangat lucu. Badan Bogumila ikut bergerak seperti orang yang sedang menari mengikuti irama alat tampi. Seharusnya, saat menampi hanya kedua tangan yang bergerak. Akibat aksi dua gadis bule itu, debu ampas kopi berterbangan memenuhi ruang keluarga di pondokan Aman Shafa. Debu itu bisa menyebabkan batuk, tetapi mereka kelihatan tidak berusaha untuk menutup hidungnya. Dengan cara menampi seperti itu, tentu saja sejumlah biji kopi bertumpahan ke lantai. Namun, dengan telaten mereka mengutip kembali satu persatu kopi yang berserakan itu. Pada akhirnya, sekitar pukul 23.00 WIB, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan menumbuk kopi secara tradisional. “Mereka kelihatan tidak capek, tetapi sangat gembira bisa menuntaskan pekerjaan yang biasanya dilakukan para petani kopi,” ungkap Aman Shafa. Kepada Aman Shafa, Joanna mengakui bahwa selama ini mereka hanya mengetahui kopi itu adalah yang sudah diroasting (sudah disangrai). Jenis itu yang sering mereka lihat di cafe-cafe Eropa. Mereka tidak pernah membayangkan, ternyata begini sulitnya para petani mengolah biji kopi, mulai dari buah chery (biji merah) diolah menjadi gabah, dijemur sampai kering, lalu ditumbuk sampai menjadi green bean, kemudian dijemur lagi. Jadi sangat wajar jika harga kopi itu mahal, kata mereka kepada Aman Shafa. Untuk melengkapi pengalaman mereka dalam bidang perkopian, besok paginya, Aman Shafa mengajak mereka meninjau kebun kopi penduduk yang berada di sekitar pondokan itu. Joanna sangat kaget saat mengetahui bahwa tinggi pohon kopi sampai 1,70 meter. Sebelumnya dia berpikir, tanaman kopi itu hanya sejenis tanaman kacang-kacangan yang tinggi batangnya sekitar 10 cm. “Mereka pikir tanaman kopi itu sejenis kacang kedelai,” kata Aman Shafa. Gadis bule Polandia ini berpikir tanaman kopi itu seperti kacang kuning, rupanya tinggi batang kopi mencapai 1,7 meter setelah mereka lihat kebun kopi warga (Foto: Aman Shafa) Sebelum melanjutkan perjalanannya ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Aceh Tenggara, mereka berjanji kepada Aman Shafa akan kembali lagi ke Takengon pada musim liburan mendatang. Obsesinya sederhana, mereka ingin memetik kopi bersama petani. Aman Shafa sampai geleng-geleng kepala melihat tekad mereka yang begitu perhatian terhadap kopi arabika gayo. “Sebelumnya mereka memang sudah dapat informasi bahwa kopi arabika gayo sebagai salah satu kopi terbaik di dunia, malah Joanna termasuk pengopi berat” jelas Aman Shafa.

Minggu, 22 Januari 2012

Belajar Tampi Kopi Gayo

Belajar menampi Kopi--seorang bule Polandia sedang belajar menampi kopi gayo di Takengon.Joanna Niedzialek

Sabtu, 21 Januari 2012

Bule Polandia Belajar Munampi

Dua Bule Itu Kuajari Munapi Dua bule dari Polandia tiba di Takengon. Meski dari Polandia, kedua bule yang masih masih belia ini, mahasiswi di sebuah Universitas swasta di Surabaya. Jurusan Bahasa Indonesia. Kedatangan kedua bule ini untuk berwisata, mengisi liburan kuliah. Khusus ke Sumatera. Joanna Niedzialek (21) dan Bogumila Jablecka . Melalui situs jejaring social wisata dunia, Joanna menulis seperti ini, “I kow that is kinda last minute request. Me and my friend (we are two girls) are travelling around Sumatre and spontanuously decided to visit Takengon. We trying to learn Bahasa Indonesia so it is great value to meet and stay with local people. I would like to ask if we could stay over your place and if you would have some time to share experiences about Sumatra and Indonesia;) Greetings Joanna”
Sayang, saat Joanna menulis surat elektronik ini, jaringan internet dari speedy yang di wirelesskan di tempatku bekerja sebagai pelayan tamu yang minum kopi di Kantin Batas Kota Takengon sedang ngadat. “Pihak Telkom sedang memperbaiki jaringan di Jalan Lebe Kader.”, kata Dadong, temanku dari D net yang memiliki hamper semua nomor petugas Telkom Aceh Tengah. Petugas Telkom yang kuhubungi lewat pesan singkat , tidak merespon smsku yang berisi keluhan tentang jaringan. Apalagi perbaikan yang dilakukan Telkom tanpa pemberitahuan kepada pelanggan. Padahal kita terlambat membayar rekening Telkom, secara sepihak Telkom akan memutuskan akses jaringan. Tidak fair.Sayang belum ada organisasi di Takengon yang membela hak konsumen yang dirugikan. Joanna bersama Bogumila datang ke tempatku bekerja Jum’at sore (20/1) ditemani Ria, wartawan LG yang juga anggota komunitas berwisata dunia. “Mereka sudah sehari bersama saya. Karena saya Jum’at malam harus ke Medan, mereka akan tinggal bersama abang”, kata Ria. Ria tampaknya mulai menyukai alam bebas. Ria bersama komunitas Bacpacker akan naik gunung di Medan. Ria tak ingin melewatkan momen ini setelah merasakan nikmatnya bersahabat dengan alam yang dulu tidak pernah ditekuninya. Sehari sebelumnya, Ria sudah sms, memberitahukan kehadiran Joanna dan temannya. Menjawabnya, aku tentu saja harus bertanya dulu pada istriku. Ijin istriku tentu saja sangat berarti karena istrikulah yang mengurus dan mengatur rumah yang merupakan istananya. Aku ini apalah kalau sudah dirumah. Kuasa penuh istriku. Menyiapkan kebutuhan rumah tangga dari A-Z. “Ara roa bule ari Polandia male nome isien, kune menurut Ine”, tanyaku pada istriku. “Kurasa gere mukunah, cume lagu ini we area”, kata Istriku. Berarti istriku setuju. Setelah persetujuan itu, tentu istriku sangat paham menerima kehadiran kedua tamu asing yang berbeda warna kulit, bahasa, ras dan agama itu. Dengan segala konsekwensinya.— Setelah berkenalan, kami duduk sambil minum kopi. Bogumila tak minum kopi, hanya teh. Selepas magrib, Ria pulang karena harus ke Medan. Beruntung, Pak Syukri bersedia mengantar kami kerumah, di sebuah Dusun dipinggiran Kota . Sebuah Dusun yang bernuansa tradisional . Dimana masyarakatnya hidup dari bertani, abang becak, buruh bangunan dan sebagian kecil menjadi pegawai pemerintah. Aku memberitahu kedua tamu ini tentang perbedaan rumah yang akan mereka tinggali. Tapi Joanna menyatakan tidak ada masalah dengan semua itu. Aku sedikit lega. Karena aku tak ingin mereka membayangkan hal yang muluk. Sampai dirumah keluarga bersalaman dengan tamu asing yang tidak asing bagi keluargaku karena mereka terbiasa dengan tamu asing, meski anak bungsuku, Alifah Timami, 2.8 tahun, tetap saja malu-malu bertatap muka dengan tamu asing ini. Sambil menyembunyikan wajahnya di pelukan inenya. Tak lama tiba, kami makan malam. Menunya, jantar lumu, ikan jaher masam jing dan sambal. Meski tetap saja lucu melihat bule ini makan menggunakan tangan, tapi mereka PD saja, meski masih agak kaku. “Tidak ada masalah dengan perubahan menu makan selama berada di Indonesia. Meski sebelumnya di tempat saya, mustahil menggunakan tangan untuk makan”, kata Joanna. Selepas makan malam, rehat sejenak . Aku menunjukkan foto-foto tsunami yang kurekam lewat kamera manual dua hari setelah tsunami di Banda Aceh. Semuanya menunjukkan tentang kematian dan hancurnya bangunan di antero Aceh kala itu. Hancurnya sebuah peradaban. “MoU di Aceh, salah satu alasannya adalah tsunami”, kataku pada kedua tamuku. Mereka hanya manggut-manggut dan berdecak ngeri melihat tumpukan mayat manusia dibawah jembatan Peunayong. Joanna juga bertanya tentang hokum syariat Islam di Aceh. Aku hanya mampu mengatakan setelah hokum syariat dibuat, pemerintah dan DPRA tidak serius melanjutkannya. Buktinya setelah seseorang ditangkap , tidak ada qanun yang menjadi payung hokum menjadikan seorang tersangka yang tertangkap tangan dipenjara polisi. Seperti kasus oknum hakim pengadilan negeri Takengon yang tertangkap tangan oleh polisi berjudi sabung ayam di komplek rumah dinas Non perumnas Kebayakan. Oknum hakim yang tak terpuji dan paham hokum positif ini kemudian dilepas begitu saja. Tapi sebelumnya, untuk rakyat biasa, hokum syariat dijalankan di Takengon dan Bener Meriah yang ditandai dengan uqubat cambuk di Musara Alun, halaman Setdakab dan di Lapangan Simpang Tige.Akh. Agar bule ini memiliki kesan saat berada di Takengon, aku kemudian menceritakan kepada mereka bagaimana sebuah proses arabika gayo dimulai. Dari kebun petani hingga ke cangkir-cangkir kopi di gerai ternama seperti Star Buck. Kebetulan dirumah ada bahan baku gabah kopi luwak yang kubeli dari Malio Adnan, seorang warga Arul Relem Silih Nara yang berhasil memberikan kursi perdamaian, kursi budaya dan lain –lain untuk Gubernur Aceh, Wagub Nazar dan hingga Presiden SBY. Gabah kopi luwak sudah kering. Kadar airnya sekitar 14 persen. Menggunakan lusung kecil, gabah kopi luwak arabika gayo tersebut kumasukkan kedalam lusung untuk ditumbuk agar memisahkan kulit tanduknya dan bijinya. Bogumila tampak senang dengan kegiatan ini. Setelah kuajarkan cara menumbuknya, perempuan bergelar master antropologi ini mulai menumbuk kopi. Kaku dan hati-hati. Setelah agak lama, barulah tamppak sedikit lancar. Tak mau kalah dengan Bogumila, Joanna juga meminta mengerjakan hal yang sama. Jadilah kedua bule ini menjadi pegawai dadakan pengolah kopi. Setelah biji kopi terpisah dengan kulit tanduknya, aku kembali mengajarkan kedua bule ini munampi. Munampi adalah proses pemisahan biji dan kulit menggunakan tampi. Alat tradisional ini juga dipakai untuk memisahkan beras dari sampahnya bahkan juga dipakai menyimpan bumbu dapur hingga alat jemur kopi. Saat Joanna menampi, aku dan keluarga terbahak-bahak melihatnya. Betapa tidak, seluruh tubuhnya bergerak mengikuti gerakan tampi. Dan hal itu terlihat sangat lucu. Aku kembali mengajarkan bule ini menampi. Aku terbiasa menampi sejak terjun di dunia pengolahan kopi. Ala bisa karena biasa.Serius , telaten dan sering bertanya membuat kedua bule ini cakap dalam sekejap. “Kami sudah memulai, kami juga harus mengakhirinya”, kata Joanna. Aku salut pada kedisiplinan kedua bule ini. Meski belum pernah mengerjakan hal baru, tapi mereka begitu tekun. Inilah mungkin yang membuat mereka unggul soal ilmu dan penerapannya. Konsisten dan disiplin. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wib, Jum’at malam, barulah keduan bule ini tidur. Setelah pekerjaan yang kuberikan diselesaikannya dengan sempurna. Termasuk mensortir terase green bean luwak. Perfect. Mereka tidur dengan bahagia karena diberi kepercayaan mengerjakan sebuah hal baru. Aku sempat bertanya, apakah mereka sebelumnya pernah melihat pohon kopi. Mereka menjawab tidak. Mereka hanya tahu kopi olahan tanpa pernah tahu bentuk batang kopinya. Pagi Sabtu (21/1) Aku menyelesaikan PRku yang kujanjikan pada kedua bule ini. Menunjukkan batang kopi. Karena kami tinggal dilingkungan perkebunan kopi, tak sulit mencari pohon kopi. Beberapa langkah dari rumah, langsung kebun kopi. “Saya membayangkan pohon kopi itu pendek dan kerdil”, kata Bogumila. Beberapa kilatan cahaya kamera digital mengarah ke batang dan buah kopi. Selesai, kami pulang dan berpamitan ke istriku. Kedua bule ini akan melanjutkan wisatanya ke Ketambe. Kami berjalan dari Paser ke Batas Kota berjalan kaki. Kedua bule ini menggendong tas besarnya. “Tidak berat?”, tanyaku pada Joanna. “Sekitar 15-20 Kg. Kami sudah terbiasa membawa beban ini”, kata Joanna. Tiba di BK, aku tak sempat menyuguhkan kopi terbaik di Sumatera ini, Arabika Gayo. Karena mobil jemputan mereka sudah datang menuju Ketambe. Kami bersalaman dan berpisah. Sebelum pulang, Joanna memberiku sebuah kartu pos. “Kartu pos ini bermotif khas Polandia”, kata Joanna. Dibalik kartu pos itu, Joanna dan Bogumila menulis beberapa kata dalam bahasa Polandia dan Inggris.Dziekujemy!. Dear Win, Thank You Very Much for being our host and teaching us so much about your culture!. We hope one day we will have on opportunity to do the same for you! Rilka Joanne. (Aman Shafa)